Minggu, 20 April 2014

TUGAS SGD KASUS




PETUNJUK MENGERJAKAN:
1. BAGI KELAS MENJADI 4 KELOMPOK
2. KELOMPOK 1 DAN 2 MENGERJAKAN KASUS 1, KELOMPOK 3 DAN 4 MENGERJAKAN KASUS 2
3. BUAT ANALISA DATA, NOC, DAN NIC DARI KASUS TERSEBUT
4. ANGKAT MINIMAL 3 DIAGNOSA KEPERAWATAN
5. PELAJARI CARA MENGISI DENGAN NANDA-NOC-NIC, PERTEMUAN SELANJUTNYA PRESENTASI TATAP MUKA LANGSUNG.


KASUS 1
Tn. Gaster, 60 thn, dirawat di RS karena menderita gastritis. Keluhan yang dialami: pusing, mata berkunang-kunang,kelemahan dan cepat lelah lelah, bibir kering, rasa haus, jantung berdebar kencang. Hasil pengkajian didapatkan TD: 100/70 mmHg, RR 28x/mnt, N 102 x/mnt, keringat dingin, nadi kecil dan lemah, klien bedrest total, mandi dibantu, berdandan dibantu, selalu bertanya kepada perawat tentang kondisinya, MINUM 500cc/ hari, Klien BAK sebanyak 500 cc/hari.

KASUS 2
Tn. Ileus, 60 thn, dirawat di RS karena menderita Ileus. Keluhan yang dialami: sesak nafas pusing, lelah, kulit tampak biru, , jantung berdebar kencang. Hasil pengkajian didapatkan TD: 110/70 mmHg, RR 30x/mnt, N 102 x/mnt, keringat dingin, nadi kecil dan lemah, klien tidak bisa melakukan miring kiri kanan, pernafasan tidak teratur, tampak otot dada mengembang, pH darah 7,3, BB 45 kg TB 168 cm, BB turun 4 kg selama 1 bulan terakhir?

Selasa, 13 November 2012

GANGGUAN SISTEM PENCERNAAN DARI TOTAL KESEHATAN ANDA

TINGGAL PILIH MATERI.......

LALU KLIK SAJA........


  1. Sistim Pencernaan
  2. Perut Kembung
  3. Radang Borok Usus Besar
  4. Kanker Usus Besar
  5. Helicobacter Pylori
  6. Pankreas
  7. Sakit Perut
  8. Gastritis (Peradangan Lambung)
  9. Gastroenteritis ("Flu Perut")
  10. Gastroparesis
  11. Penyakit Refluks Gastro Esofageal (PRGE)
  12. Aneurisme Aorta Perut
  13. Batu-Batu Empedu
  14. Dyspepsia (Gangguan Pencernaan)
  15. Diverticulitis
  16. Irritable Bowel Syndrom
  17. Primary Sclerosing Cholangitis
  18. Borok-Borok Perut (Peptic Ulcers)
  19. Diare
  20. Mual Dan Muntah
  21. 9 Mitos Penyakit Pencernaan
  22. Achalasia
  23. Primary Biliary Cirrhosis
  24. Warna-Warna Feces (Tinja)
  25. Penyakit Celiac (Usus Kecil)
  26. Penyakit Ascites
  27. Diabetes
  28. Endoscopic Retrograde Cholangiopancreatography (ERCP)
  29. Eosinophilic Esophagitis
  30. Appendicitis Dan Appendectomy

GANGGUAN SISTEM PENCERNAAN DARI MEDICASTORE

TINGGAL PILIH MATERI YANG DICARI....

LALU KLIK SAJA......

GAMPANG KHAN....


Medicastore > Kategori Penyakit > Penyakit Sistem Pencernaan
  Pemeriksaan Diagnostik Saluran Pencernaan
   
- Pemeriksaan Diagnostik Untuk Saluran Pencernaan
  Hernia, Bezoar dan Benda Asing
   
  Tumor Pada Sistem Pencernaan
   
- Kanker Lambung
- Kanker usus halus
- Polip Di Usus Besar & Rektum
- Poliposis Familial
- Kanker Kolorektal (rektum)
- Kanker Kerongkongan (Esophageal Cancer)
- Kanker Perut
- Kanker Pankreas
- Tumor Kerongkongan Nonkanker
- Tumor Perut Nonkanker
- Kanker Anus
- Polip Kolorektal
  Ulkus Peptikum
   
  Gangguan Esofagus
   
- Luka Pada Kerongkongan
Akibat Bahan-bahan Korosif
- Bau Mulut (Halitosis)
- Kanker Kerongkongan
- Disfagia (kesulitan menelan) Karena Kelainan Tenggorokan
- Cincin Kerongkongan Bagian Bawah (Cincin Schatzki)
- Selaput Kerongkongan (Sindroma Plummer-Vinson, Disfagia Sideropenik)
- Disfagi Lusoria
- Penyebab Lain Dari Penyumbatan Kerongkongan
- Kejang Kerongkongan Yang Tersebar
- Akalasia (Kardiospasme, Esophageal aperistaltis, Megaesofagus)
- Refluk Asam (Refluks Gastroesofageal)
- Kantong Kerongkongan (Divertikula)
- Hernia Hiatal
- Robekan Pada Kerongkongan
  Divertikulosis
   
- Divertikulosis
- Divertikulitis
  Penyakit Pembengkakan Usus Besar (IBD)
   
- Penyakit Crohn (Enteritis Regionalis, Ileitis Granulomatosa, Ileokolitis)
- Kolitis Ulserativa
- Hernia (Burut Dinding Perut)
- Collagenous Colitis dan Lymphocytic Colitis
- Ischemic Colitis
- Radang Usus Besar (Diversion Colitis)
  Penyakit Pada Pankreas
   
- Adenokarsinoma Pankreas
- Insulinoma
- Gastrinoma
- Glukagonoma
- Radang Pankreas (Pankreatitis Akut)
- Pankreatitis Kronis
- Vipoma
  Gangguan Rektum & Anus
   
- Fissura Anus
- Hemoroid (Wasir atau Ambeien)
- Proktitis (radang lapisan rektum)
- Penyakit Pilonidal (abses Pilonidal)
- Prolapsus Rektum
- Abses Anorektal
- Fistula Anorektal (Fistula in ano)
- Gatal Anus (Pruritus ani)
- Benda Asing Di Rektum & Anus
- Sindrom levator (Levator syndrome)
  Gangguan Pencernaan Darurat
   
- Abses Abdomen
- Perdarahan Saluran Pencernaan
- Nyeri Perut
- Penyumbatan Mekanis Pada Usus
- Ileus
- Apendisitis (radang usus buntu)
- Peritonitis (radang selaput rongga perut)
- Perforasi (Perlubangan)
- Irritable Bowel Syndrome (IBS)
  Gangguan Lambung
   
- Irritable Bowel Syndrome
- Perdarahan Pada Kelainan Arteriovenosa
- Gastritis (maag atau radang lapisan lambung)
- Ulkus Peptikum
- Gastroesophageal Reflux (GERD)
  Gangguan Perut
   
- Dispepsia
- Mual & Muntah
- Regurgitasi
- Sensasi Globus (Histeria globus)
  Gangguan Penyerapan Nutrisi
   
- Sindrom Malabsorbsi
- Intoleransi Terhadap Gula
- Penyakit Seliak
- Tropical Sprue (Sariawan Tropikal)
- Penyakit Whipple (Lipodistrofi Intestinal)
- Limfangiektasi Intestinal (Hipoproteinemi Idiopatik)
- Short Bowel Syndrome
- Sindrom Pertumbuhan Bakteri Berlebihan
  Gastroenteritis
   
- Botulisme
- Keracunan Makanan Karena Clostridium perfringen
- Kolitis Karena Antibiotik
- Gastroenteritis
- Kolitis Hemoragika
- Keracunan Makanan Yang Mengandung Stafilokokus
- Traveler's Diarrhea (Flu Usus, Grippe, Turista)
- Keracunan Bahan Kimia Dalam Makanan
- Gastroenteritis Sebagai Efek Samping Dari Obat
  Kelainan Buang Air Besar
   
- Sembelit (Konstipasi)
- Inersia Kolon
- Diskezia
- Diare
- Inkontinensia Tinja (buang air besar tidak terkendali)
- Flatulensi (perut kembung)
  Biologi Sistem Pencernaan
   
- Biologi Sistem Pencernaan
  Pemeriksaan Medis Sistem Pencernan
   
- Penelanan Barium (Esophagram)
- Pemeriksaan Serial Saluran Pencernaan Atas dan Usus Halus
- Sinar-X Pada Usus Dua Belas Jari (Duodenografi Hipotonik)
- Barium Enema (pemeriksaan saluran pencernaan bawah)
- Sinar-X Pada Kandung Empedu (Cholecystography Oral)
- Pemeriksaan Saluran Empedu
- Pemeriksaan Saluran Pankreas, Hati dan Saluran Empedu (Cholangiopancreatography Retrograde Endoskopic)
- Sinar-X Pada Limpa (Splenoportography)
- Angiografi Pembuluh Darah Perut (Arteriografi Mesentrik dan Celiac)

Senin, 05 November 2012

Pemeriksaan Muskuloskeletal

PERAWATAN KOLOSTOMI

Pengertian
* Sebuah lubang buatan yang dibuat oleh dokter ahli bedah pada dinding abdomen untuk mengeluarkan feses (M. Bouwhuizen, 1991)
* Pembuatan lubang sementara atau permanen dari usus besar melalui dinding perut untuk mengeluarkan feses (Randy, 1987)
* Lubang yang dibuat melalui dinding abdomen ke dalam kolon iliaka untuk mengeluarkan feses (Evelyn, 1991, Pearce, 1993)

Jenis – jenis kolostomi
Kolostomi dibuat berdasarkan indikasi dan tujuan tertentu, sehingga jenisnya ada beberapa macam tergantung dari kebutuhan pasien. Kolostomi dapat dibuat secara permanen maupun sementara.

* Kolostomi Permanen
Pembuatan kolostomi permanen biasanya dilakukan apabila pasien sudah tidak memungkinkan untuk defekasi secara normal karena adanya keganasan, perlengketan, atau pengangkatan kolon sigmoid atau rectum sehingga tidak memungkinkan feses melalui anus. Kolostomi permanen biasanya berupa kolostomi single barrel ( dengan satu ujung lubang)

* Kolostomi temporer/ sementara
Pembuatan kolostomi biasanya untuk tujuan dekompresi kolon atau untuk mengalirkan feses sementara dan kemudian kolon akan dikembalikan seperti semula dan abdomen ditutup kembali. Kolostomi temporer ini mempunyai dua ujung lubang yang dikeluarkan melalui abdomen yang disebut kolostomi double barrel.

Lubang kolostomi yang muncul dipermukaan abdomen berupa mukosa kemerahan yang disebut STOMA. Pada minggu pertama post kolostomi biasanya masih terjadi pembengkakan sehingga stoma tampak membesar.

Pasien dengan pemasangan kolostomi biasanya disertai dengan tindakan laparotomi (pembukaan dinding abdomen). Luka laparotomi sangat beresiko mengalami infeksi karena letaknya bersebelahan dengan lubang stoma yang kemungkinan banyak mengeluarkan feses yang dapat mengkontaminasi luka laparotomi, perawat harus selalu memonitor kondisi luka dan segera merawat luka dan mengganti balutan jika balutan terkontaminasi feses.

Perawat harus segera mengganti kantong kolostomi jika kantong kolostomi telah terisi feses atau jika kontong kolostomi bocor dan feses cair mengotori abdomen. Perawat juga harus mempertahankan kulit pasien disekitar stoma tetap kering, hal ini penting untuk menghindari terjadinya iritasi pada kulit dan untuk kenyamanan pasien.
Kulit sekitar stoma yang mengalami iritasi harus segera diberi zink salep atau konsultasi pada dokter ahli jika pasien alergi terhadap perekat kantong kolostomi. Pada pasien yang alergi tersebut mungkin perlu dipikirkan untuk memodifikasi kantong kolostomi agar kulit pasien tidak teriritasi.

Pendidikan pada pasien
Pasien dengan pemasangan kolostomi perlu berbagai penjelasan baik sebelum maupun setelah operasi, terutama tentang perawatan kolostomi bagi pasien yang harus menggunakan kolostomi permanen.
Berbagai hal yang harus diajarkan pada pasien adalah:

* Teknik penggantian/ pemasangan kantong kolostomi yang baik dan benar
* Teknik perawatan stoma dan kulit sekitar stoma
* Waktu penggantian kantong kolostomi
* Teknik irigasi kolostomi dan manfaatnya bagi pasien
* Jadwal makan atau pola makan yang harus dilakukan untuk menyesuaikan
* Pengeluaran feses agar tidak mengganggu aktifitas pasien
* Berbagai jenis makanan bergizi yang harus dikonsumsi
* Berbagai aktifitas yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh pasien
* Berbagi hal/ keluhan yang harus dilaporkan segera pada dokter ( jika apsien sudah dirawat dirumah)
* Berobat/ control ke dokter secara teratur
* Makanan yang tinggi serat

Komplikasi kolostomi

1.Obstruksi/ penyumbatan
Penyumbatan dapat disebabkan oleh adanya perlengketan usus atau adanya pengerasan feses yang sulit dikeluarkan. Untuk menghindari terjadinya sumbatan, pasien perlu dilakukan irigasi kolostomi secara teratur. Pada pasien dengan kolostomi permanen tindakan irigasi ini perlu diajarkan agar pasien dapat melakukannya sendiri di kamar mandi.

2.Infeksi
Kontaminasi feses merupakan factor yang paling sering menjadi penyebab terjadinya infeksi pada luka sekitar stoma. Oleh karena itu pemantauan yang terus menerus sangat diperlukan dan tindakan segera mengganti balutan luka dan mengganti kantong kolstomi sangat bermakna untuk mencegah infeksi.

3.Retraksi stoma/ mengkerut
Stoma mengalami pengikatan karena kantong kolostomi yang terlalu sempit dan juga karena adanya jaringan scar yang terbentuk disekitar stoma yang mengalami pengkerutan.

4.Prolaps pada stoma
Terjadi karena kelemahan otot abdomen atau karena fiksasi struktur penyokong stoma yang kurang adekuat pada saat pembedahan.

5.Stenosis
Penyempitan dari lumen stoma

6.Perdarahan stoma

Perawatan kolostomi


Pengertian
Membersihkan stoma kolostomi, kulit sekitar stoma , dan mengganti kantong kolostomi secara berkala sesuai kebutuhan.

Tujuan
* Menjaga kebersihan pasien
* Mencegah terjadinya infeksi
* Mencegah iritasi kulit sekitar stoma
* Mempertahankan kenyamanan pasien dan lingkungannya

Persiapan pasien
* Memberi penjelasan pada pasien tentang tujuan tindakan, dll
* Mengatur posisi tidur pasien (supinasi)
* Mengatur tempat tidur pasien dan lingkungan pasien (menutup gorden jendela, pintu, memasang penyekat tempat tidur (k/P), mempersilahkan keluarga untuk menunggu di luar kecuali jika diperlukan untuk belajar merawat kolostomi pasien

PERSIAPAN ALAT
1. Colostomy bag atau cincin tumit, bantalan kapas, kain berlubang, dan kain persegi empat
2. Kapas sublimate/kapas basah, NaCl
3. Kapas kering atau tissue
4. 1 pasang sarung tangan bersih
5. Kantong untuk balutan kotor
6. Baju ruangan / celemek
7. Bethadine (bila perlu) bila mengalami iritasi
8. Zink salep
9. Perlak dan alasnya
10. Plester dan gunting
11. Bila perlu obat desinfektan
12. bengkok
13. Set ganti balut

PERSIAPAN KLIEN
1. Memberitahu klien
2. Menyiapkan lingkungan klien
3. Mengatur posisi tidur klien

PROSEDUR KERJA
1. Cuci tangan
2. Gunakan sarung tangan
3. Letakkan perlak dan alasnya di bagian kanan atau kiri pasien sesuai letak stoma
4. Meletakkan bengkok di atas perlak dan didekatkan ke tubuh pasien
5. Mengobservasi produk stoma (warna, konsistensi, dll)
6. Membuka kantong kolostomi secara hati-hati dengan menggunakan pinset dan tangan kiri menekan kulit pasien
7. Meletakan colostomy bag kotor dalam bengkok
8. Melakukan observasi terhadap kulit dan stoma
9. Membersihkan colostomy dan kulit disekitar colostomy dengan kapas sublimat / kapas hangat (air hangat)/ NaCl
10. Mengeringkan kulit sekitar colostomy dengan sangat hati-hati menggunakan kassa steril
11. Memberikan zink salep (tipis-tipis) jika terdapat iritasi pada kulit sekitar stoma
12. Menyesuaikan lubang colostomy dengan stoma colostomy
13. Menempelkan kantong kolostomi dengan posisi vertical/horizontal/miring sesuai kebutuhan pasien
14. Memasukkan stoma melalui lubang kantong kolostomi
15. Merekatkan/memasang kolostomy bag dengan tepat tanpa udara didalamnya
16. Merapikan klien dan lingkungannya
17. Membereskan alat-alat dan membuang kotoran
18. Melepas sarung tangan
19. Mencuci tangan
20. Membuat laporan